01/04/13

SUAMIKU, TEMANI AKU!



A Baby Blues Sindrom Story

Melihat seorang teman yang selalu murung setelah melahirkan mengingatkanku pada masa-masa pasca melahirkan putriku yang pertama belasan tahun yang lalu. Pada saat mengalami kejadian itu aku sama sekali tak tahu kalau ternyata itulah yang orang-orang biasa menyebut sebagai sindrom baby blues (depresi pasca melahirkan).
Banyak rasa bercampur aduk, aku merasa kehilangan semangat hidup, kehilangan selera makan, kehilangan energi dan motivasi untuk melakukan apapun. Ada rasa kekecewaan luar biasa terhadap keadaan sekitar, rasa marah pada diri  sendiri dan rasa hampa tak jelas juntrungannya.
Dilain pihak tiba-tiba diteror oleh perasaan sendiri, merasa sangat lemah, bodoh, tidak beruntung dan tidak diperlukan. Hal-hal kecil seperti memandikan bayi, menggantikan popok, merawat pusar yang belum puput bisa menimbulkan frustasi tersendiri (mungkinkah ini karena aku menikah terlalu muda?...entahlah 21 tahun kukira bukan usia yang terlampau muda untuk menikah).
Karena rasa-rasa yang tak jelas yang bertumpuk-tumpuk tersebut mau tak mau menimbulkan rasa lelah dan capek luar biasa. Saat itu kurasakan tangisan Syifa terasa bagaikan menerorku siang dan malam menit demi menit, seolah dia itu tak rela membiarkanku menjadi diriku sendiri barang sejenak saja sekedar memberiku waktu untuk menangis sejadi-jadinya menuruti kata hati. Hmm, sangat emosional!
Aku ceritakan hal ini pertama supaya kelak Syifa tidak akan mengalami yang aku alami atau paling tidak bisa mengantisipasinya, syukur syukur bisa memberi hikmah yang lebih luas ke pembaca yang lain.
Sudah tak terhitung jumlahnya berita-berita di media masa, tentang ibu-ibu yang tega melakukan hal buruk terhadap bayinya yang baru lahir (tak tega aku mengatakan membunuh, menghabisi dsb), bukannya mau memberikan pembenaran (Nadzubillah) namun melihat dan mengalami apa yang dinamakan baby blues sindrom itu setidaknya ada sedikit kemengertian kenapa hal-hal diluar nalar tersebut bisa dilakukan oleh seorang makhluk berhati penuh kasih yang disebut “IBU”.
Dulunya aku mengira bahwa melahirkan, merawat bayi, menyusui dan segala tetek bengek lain adalah hal alamiah yang dengan berjalannya waktu keterampilan tersebut akan dengan mudah dikuasai dengan sendirinya. Rupanya aku salah semua fase tersebut butuh yang namanya pembelajaran, dan itu yang tidak aku lakukan jadi saat menghadapinya oh nooo mengapa semua jadi membingungkan begini.
Itu faktor pertama, yang kedua adalah faktor pendampingan dari anggota keluarga. Segera setelah seorang ibu pulang dari RS, disinilah saat-saat butuh pendampingan secara penuh dari anggota keluarga dimulai. Ini penting sekali terutama pada kelahiran anak pertama. Jangan pernah ibu-ibu baru ini mengerjakan sendirian semua urusannya dan bayinya, karena perubahan kondisi dari sebelum punya bayi dan setelah ada bayi amat sangat melelahkan. Jam tidur yang kacau, gak bisa pergi kemana-mana, harus mengerjakan pekerjaan rumah (bila PRT tidak ada), dan sebagainya tentu menimbulkan tekanan tersendiri.
Memang fakta bahwa dengan melihat wajah lucu bayi kita maka segala keruwetan akan segera sirna, itu benar sekali namun believe me, pada kondisi baby blues hanya ada perbedaan tipis antara rasa sayang yang luar biasa kepada bayi kita dengan rasa tak berdaya dan rasa-rasa aneh lainnya itu.
Berapa lama seorang ibu menderita baby blues, sangat relatif. Ada yang sebentar, ada pula yang berkepanjangan selama berbulan-bulan, bila tidak ditangani. Fakta menarik lainnya dan ini pernah kubaca di sebuah majalah, baby blues bisa menimpa kaum ibu yang tidak memiliki anggota keluarga atau teman yang bisa diajak bicara (curhat), pada ibu yang sedang mengalami depresi karena sebab-sebab di luar masalah kehamilan dan persalinan, atau pada ibu yang memiliki kehidupan yang berat pada masa kehamilan dan pasca melahirkan. (untuk kasusku masalahku cuma satu: aku tak merasa mampu mengurus bayiku saat itu dan itu tak mampu aku komunikasikan ke orang-orang disekitarku).
Di majalah itu diceritakan kasus seorang ibu yang membunuh bayinya karena depresi menghadapi tangis bayi itu. Konon, setelah kejadian itu, di Amerika disediakan layanan telepon khusus bagi ibu-ibu yang baru melahirkan. Setiap kali mereka merasa panik dan hampir kehilangan kendali menghadapi bayi, mereka bisa menelpon untuk sekedar curhat dan menenangkan diri. Memang, terapi terbaik untuk mengatasi masalah ini adalah "terapi bicara." Ya, cuman bicara.
Yang kami—para ibu yang baru melahirkan—butuhkan agaknya hanya teman untuk menemani kami menjalani masa-masa berat itu. Aku ingat saat itu, karena  sering menangis dan murung, hubby sering membawaku jalan-jalan berdua saja tanpa tujuan saat masih cuti melahirkan, dan ajaib usai jalan-jalan biasanya aku merasa lega. Hanya jalan-jalan lalu ngobrol ngalor ngidul tertawa-tawa mengulang episode sebelum melahirkan. Hubby tentu saja tak tau apa-apa mengenai baby blues ini, mungkin nalurinya saja yang mendorongnya untuk bertindak.
Idealnya suami banyak menyediakan waktunya (kalo perlu cuti sebulan) untuk selalu mendampingi istrinya segera setelah istri melahirkan, membantu mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga, segera menggendong bayi ketika dilihat istri mulai naik tensi dan kehilangan kesabaran menghadapi tangis bayi dsb. Kondisi kejiwaan seorang ibu memang dipengaruhi pola asuhnya dan lingkungan yang membentuknya dan hal ini berpengaruh terhadap mudah atau tidaknya baby bluesdiatasi.
          Kalau aku boleh katakan mungkin orang kedua yang paling berjasa setelah suamiku dalam kesembuhan baby blues yang kualami adalah Mbak Bekti Lestari (teman kerjaku dulu). Aku banyak mendapatkan nasehat, kata-kata menenangkan dan tentu juga waktu luang untuk menjadi tempat sampah bagi pertanyaan-pertanyaanku.
Sederhana saja, setiap hari sekitar 5 sampai 10 menit dia selalu menyempatkan diri menyapaku, siap mendengarkan keluhanku “Aduh Mbak aku pusing, Syifa gak mau menyusu” jawabnya “Oh, mungkin perutnya kembung”. Hanya jawaban standar memang namun benar-benar mujarab untuk menenangkan jiwa.
Pengalaman ini membuatku mengambil dua kesimpulan besar. Pertama, sebagai perempuan, bila ada teman atau tetangga yang baru melahirkan (dan kita tahu dia sendirian, tanpa ibu atau saudara yang mendampingi), sebisa mungkin banyak-banyaklah menjenguknya, atau paling tidak, mengirimkan SMS kepadanya. (maafkan, sudah lama ini tak kulakukan karena alasan klasik: kesibukan!). Percayalah, hal itu sangat berperan besar untuk membantunya melewati masa-masa berat pasca melahirkan. Kedua, kepada para suami, aku ingin berpesan, "Wahai para suami, jangan tinggalkan kami pada masa-masa berat ini. Kami butuh kalian saat ini, bukan nanti, ketika pekerjaan sudah selesai. Tidak ada kata nanti. Saat ini juga, dampingilah kami sebentar, supaya kami bisa menemukan diri kami kembali dan siap kembali menjalani hari-hari dengan kestabilan emosi."

Dini hari, 01 April 2013

Buat putriku Syifa: Suatu hari smoga ini bermanfaat untukmu nak!
Buat Suamiku: Terima kasih atas lautan kesabaranmu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar